Ayah Panutan Dalam Hidupku

Ayah Panutan Dalam Hidupku

Hai, panggil saja aku Clay… aku adalah seorang anak gadis yang baru saja menginjakkan usia ku yang ke-17 di bulan ini. Tidak, ini bukan tentang ku yang ingin aku ceritakan disini.. Ini tentang Ayah, kekasih pertama di dalam hidupku, dan bagaimana ia melawan dunia untuk melindungi ku; anak perempuan tersayangnya…

Aku adalah anak satu – satunya di keluarga ku, dan aku menyukai hal itu. Karena aku tidak perlu merasakan rasanya iri kepada saudara kandung, atau brother/sister complex. Namun bukan berarti hidupku terus mulus seperti yang dikatakan banyak orang bahwa anak tunggal bagaikan sebuah permata.

Ayah Panutan Dalam Hidupku

Ku akui bahwa menjadi anak tunggal tidak lah buruk, dan lebih cenderung menyenangkan karena segala memori bisa ku rasakan sendiri tanpa harus terbagi. Sayangnya, itu tidak bertahan selamanya. Ibu ku meninggal tepat 2 tahun silam akibat sakit kanker yang telah lama ia derita.. Yang tersisa kini hanya ada aku dan Ayah..

Berawal saat ibu mulai tidak bisa bangun dari tempat tidur, aku mulai merasakan ada hal yang kurang di keluarga ini.. Ayah yang tadinya bekerja kurang lebih selama 8 jam, semakin sering pulang larut. Pernah aku memergoki ayah pada pukul 11 malam yang baru keluar dari kamar mandi sehabis membersihkan badan. Ayah baru mandi? Baru pulang?” kata ku, tapi yang ku dengar hanya sautan singkat ayah yang berkata “engga... Semakin hari aku semakin sering melihat ayah yang mandi tengah malam, dengan keadaan ibu yang seperti ini aku khawatir bahwa ayah akan melakukan hal – hal aneh…

Ayah Panutan Dalam Hidupku

Sampai pada suatu malam disaat aku belum bisa tidur karena suasana hatiku sedang buruk, aku mendengar ayah pulang kerja. Tapi aku berpura – pura seolah sudah lama tertidur. Aku semakin penasaran dengan ayah karena tidak lama setelah itu ada suara gaduh seperti aktivitas siang hari dari arah kamar kedua orangtua ku dan juga dapur. Dengan hati – hati aku melangkah untuk memastikan suara tersebut datang darimana. Namun apa yang aku lihat saat itu benra – benar membuatku terenyuh..

Aku melihat Ayah membantu ibu membersihkan diri sembari menyuapi ibu. Setelah itu Ayah membuka beberapa amplop gaji yang membuat ayah menangis… ternyata selama ini ayah pulang larut, hanya untuk lembur agar mendapat penghasilan lebih demi pengobatan ibu..

Selama ibu masih hidup, tidak banyak kenangan yang bisa kuingat bersama Ayah. Karena ayah bukan tipe orang yang bisa Melucu, dan bukan juga yang suka memanjakan anak perempuan satu – satunya ini. Terkadang aku merasa bahwa Ayah tidak sepenuhnya sayang padaku, karena selama ibu masih hidup yang mengajak ku bercanda, mendengarkan aku bercerita, sampai mengajarkan banyak hal adalah ibu.

Aku hanya merasa kedekatan kami tidak begitu terukir, meskipun aku tahu; walaupun aku berbicara begini, aku sadar bahwa aku menyayangi Ayah. Dan sampai kapan pun itu, Ayah lah yang akan jadi orang pertama mendengar kabar tentang ku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *